Rabu, 08 April 2015

TEKNOLOGI BENIH
“Pengujian Benih”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknologi Benih

Disusun oleh:
Jajang Ahmad Faozan             (1137060040)

                          





JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015


KATA PENAGANTAR

Bismillahirrohmanirohim...
Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelasaikan makalah ini, makalah ini penulis berikan judul “Pengujian Benih”
 Terimakasih penulis ucapkan kepada kedua orang tua dan teman-teman yang telah memberikan dukungan moril maupun materil sampai selesainya makalah ini.
  Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang ingin mempelajari tentang peranan bahan organik terhadap kesuburan tanah.








Bandung,  Maret 2015
                                                                     

                     Penulis




BAB I
PENDAHULUAN



1.1            latar Belakang

  Benih sebagai salah satu bahan dasar dalam budidaya tanaman memegang peranan yang sangat penting baik dalam memperbanyak tanaman maupun dalam mendapatkan produk hasil tanamannya. Benih sebagai komoditi perdagangan dan sebagai unsur baku yang mempunyai peranan penting dalam produksi pertanian. Benih bermutu dengan kualitas yang tinggi selalu diharapkan oleh petani. Oleh karena itu, benih harus selalu dijaga kualitasnya sejak diproduksi oleh produsen benih, dipasarkan hingga sampai di tangan petani untuk proses penanaman. Untuk menjaga kualitas benih tersebut, maka peranan pengujian benih menjadi sangat penting dan harus dilakukan terhadap benih baik ditingkat produsen benih, pedagang benih maupun pada tingkat petani.
 Pengujian benih tersebut bertujuan untuk mengkaji dan menetapkan nilai setiap contoh benih yang perlu diuji selaras dengan faktor kualitas benih. Namun banyaknya spesies/varietas tanaman yang beraneka ragam ada kecenderungan benih akan tercampur antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk menjamin penggunaan benih yang benar – benar murni, bersih dan tidak tercampur dengan bahan lainnya, salah satunya adalah dengan melakukan pengujian kemurnian benih
Faktor benih sangat menentukan keberhasilan produksi . Suatu fenomena yang terjadi bahwa kebanyakan benih – benih saat ini memiliki daya viabilitas serta vigor benih tidak sejalan dengan apa yang diharapkan untuk mampunya benih padi itu tumbuh. Petani sering dirugikan dengan kondisi benih dengan kualitas yang sangat rendah, sehingga berdampak pada biaya budidaya yang lebih tinggi yang tidak sebanding dengan hasil produksi padi pada akhirnya.
Menurut Sutopo (2010 : 2), benih dengan mutu tinggi sangat diperlukan karena merupakan salah satu sarana untuk dapat menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimal. Mutu benih mencakup pengertian : (1) Mutu genetik yaitu penampilan benih murni dari spesies atau varietas tertentu yang menunjukkan identitas genetik  dari tanaman induknya, mulai dari benih penjenis, benih dasar, benih pokok sampai benih sebar. (2) Mutu fisiologis yaitu menampilkan kemampuan daya hidup atau viabilitas benih yang mencakup daya kecambah dan kekuatan tumbuh benih. Serta (3) Mutu fisik merupakan penampilan benih secara prima bila dilihat secara fisik, antara lain dari ukuran dan homogen, bernas, bersih dari campuran benih lain, biji gulma dan dari berbagai kontaminan lainnya, serta kemasan  yang menarik.
Benih yang dikatakan memiliki daya pertumbuhan baik adalah benih dengan viabilitas mencapai 80% ke atas. Benih dengan viabilitas tinggi tentunya memiliki daya vigor benih yang kuat, karena didukung oleh komponen cadangan makanan dalam biji yang cukup untuk menopang pertumbuhan awal dari biji sebelum memperoleh makanan dari dalam tanah. Untuk dapat mengetahui hal – hal tentang viabilitas dan daya vigor benih tentunya harus dilakukan dengan sebuah penelitian. Pengujian benih sangat penting, untuk benih – benih yang akan dipasarkan untuk dibudidayakan oleh petani, sebab benih yang akan diedarkan kepada konsumen (petani) harus benih yang baik (mutu genetik, fisik, dan fisiologis) Benih merupakan benda hidup yang mempunyai sifat genetis dan fisiologis sehingga perlu penanganan secara sungguh-sungguh agar tidak cepat mati atau tidak tumbuh dan kemurniannya tetap terjaga, yang diperlihatkan oleh pertumbuhannya yang seragam dan produktivitasnya sesuai dengan deskripsi. Kondisi benih yang beredar di Indonesia sangat variatif tingkat mutunya, seperti mutu tidak sesuai standar, kadaluarsa dll, sehingga sangat merugikan petani.

1.2            Tujuan

Ø  Untuk memahami tentang kemurnian suatu benih
Ø  Untuk memahami tentang kadar air benih




1.3            Tinjauan Pustaka

Benih merupakan biji tanaman yang dipergunakan untuk keperluan pengembangan usahatani dan mempunyai fungsi agronomis. Benih yang bermutu adalah benih yang telah dinyatakan sebagai benih yang bekualitas tinggi. Benih yang baik dan bermutu akan sangat menunjang dalam peningkatan produknya baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Kartasapoetra, 1986).
 Pengujian benih khususnya dalam pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan – kegiatan untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen – komponen benih termasuk pula persentase berat benih murni (pure seed) yang meliputi semua varietas dari setiap spesies yang diakui bagaimana yang dinyatakan oleh pengirim atau yang ditemukan dalam pengujian di laboratorium (Justice, 2002).
Usaha pemurnian benih juga memudahkan pengawas benih dalam pekerjaannya mengamati tingkat kemurnian suatu kegiatan dalam produksi benih maupun analisis benih di laboratorium untuk menguji kemurnian fisik benih. Bagi pengujian benih, beratnya contoh kerja untuk masing – masing benih telah ada ketentuannya, kecuali untuk beberapa benih tertentu. Dalam pelaksanaan pengujian kemurniaan benih dimana komponen – komponen telah berhasil dipisahkan, kemudian yang merupakan hasil uji benih murni, benih tanaman lain atau varietas lain, biji-bijian herba serta benda-benda mati atau kotoran, selanjutnya masing – masing harus ditimbang dengan seksama dengan contoh kerja dalam satuan gram (Anonim, 2007).
 Daya berkecambah suatu benih dapat diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian – bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian pengujian daya kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada jangka waktu yang telah ditentukan (Danuarti, 2005).


     BAB II
ISI

2.1            Kemurnian Benih

Pada dasarnya kegiatan pemurnian benih bertujuan untuk membuang benih spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi dan bahan-bahan pengotor serta memilih benih murni dari benih – benih yang kecil, berwarna tidak normal dan benih – benih yang tidak sehat lainnya. Pemurnian benih tidak dapat dilakukan dengan sembarangan karena masing-masing kelompok benih mempunyai masalah yang harus dianalisis dan dipecahkan dengan menggunakan perangkat mesin dengan cara yang benar. Untuk benih yang sedikit pengayakan dapat dilakukan tetapi pada benih yang banyak harus dilakukan dengan mesin penampi. Ketika dibersihkan, benih harus dipisahkan dari kontaminan seperti tanah, debu dan sekam serta benih yang inferior, yaitu benih yang diluar dari ukuran sebagaimana lazimnya, keriput, retak – retak maupun berpenyakit (Rineka, 1986).
Pengujian kemurnian benih biasanya dilakukan secara duplo. Beda antara hasil ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih tinggi atau lebih rendah dari 5%. Dalam uji kemurnian benih sampel benih yang telah ditentukan ditimbang beratnya terlebih dahulu, kemudian dipisah – pisahkan atas komponen yang ada yaitu benih murni, benih spesies tanaman lain, benih gulma dan kotoran lainnya (Anonim, 2008).
Untuk memisahkan sampel benih dari kotoran fisik yang lebih ringan dari benih dapat menggunakan seed blower. Setiap komponen yang telah berhasil dipisahkan selanjutnya masing – masing ditimbang, kemudian ditotal. Untuk menghindari adanya kekeliruan dalam menghitung kemurnian benih, maka total berat semua komponen dibandingkan dengan berat awal sampel benih yang diuji. Berat total dari semua komponen seharusnya sama dengan berat awal sampel benih yang diuji, tetapi bisa juga kurang/lebih. Kegiatan terakhir dari pelaksanaan uji kemurnian benih adalah menghitung persentase dari setiap komponen benih yang diuji. Seperti benih spesies lain, gulma dan kotoran lain memiliki nilai rendah (Coppelan, 1985).
 Dalam perhitungan kemurnian benih dipengaruhi oleh komponen hasil pengujian benih. Apabila berat sampel benih kurang dari 25 gram, maka perhitungan persentase berat masing – masing komponen dengan membandingkan terhadap keseluruhan berat semua komponen (bukan terhadap berat sampel benih yang diuji), yang kemudian dikalikan dengan 100%. Jika tingkat kemurnian benih itu rendah, maka juga akan berpengaruh dalam keseragaman tumbuh di lapangan yang juga akan rendah. Hal tersebut dapat terjadi karena dimungkinkan benih yang digunakan tercampur oleh spesies tanaman lain, gulma atau kotoran lainnya sehingga akan berpengaruh pada waktu panen yang tidak serentak dan produk yang dihasilkan tidak akan seragam/tidak sesuai dengan yang diharapkan (Kamil, 1979).
Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan nilai pertanaman di lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus (ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan prosedur pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik fisiologi benih. Petunjuk ini menjelaskan bagaimana mempersiapkan contoh yang mewakili lot benih untuk keperluan pengujian, dan bagaimana melakukan pengujian benih, salah satunya yaitu analisis kemurnian.
 Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen sebagai berikut :

a) Benih murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang sedang diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :
Ø Benih masak utuh
Ø Benih yang berukuran kecil, mengkerut, tidak masak
Ø Benih yang telah berkecambah sebelum diuji
Ø Pecahan/ potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya, asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies yang dimaksud
Ø Biji yang terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali
b) Benih tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan tidak dimaksudkan untuk diuji.
c) Kotoran benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang termasuk kedalam kotoran benih adalah:
Ø Benih dan bagian benih
@ Benih tanpa kulit benih
@ Benih yang terlihat bukan benih sejati
@ Bijihampa tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal
@ Cangkang benih
@ Kulit benih
Ø Bahan lain
@ Sekam, pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai, dll.
Dalam pengambilan contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:
a)      Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan dua kali.
b)      Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan satu kali.






Skema pengujian analisis kemurnian benih

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiCYmameQKk-GJsUl3V9_hn18Pi-6pCSg1ghMHU9jRFEP7_DXfR6Op8FjZFMFRHN6p8BOSZ9gPz8XaE08VtvONbndPTWtAJfEyriKe3vIK2zZYzUt5zMfORQplcvlKHBpaBlI_XriqV1co/s400/image002.gif


Dari skema diatas dapat diketuhi bahwa pengambilan contoh benih dapat dilakukan secara simplo yaitu dengan melakukan pengambilan contoh kerja hanya satu kali, tetapi jika secara duplo maka pengambilan contoh kerja dilakukan 2 kali setengah berat contoh kerja. 
Setelah dilakukan pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat awal benih sebelum dilakukan pengujian kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis kemurnian, setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan penampakan morfologi. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah dilakukan analisis kemudian dilakukan penimbangan pada setiap komponen tersebut. Hasil dari penimbangan dilakukan perhitungan faktor kehilangan.
Faktor kehilangan =Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgoLXqIkFPKKx7kckKHlUOrtyEjUQfmvm14UBhXdjkrNwGMmhptq8EwKxw0LXu1wrCcmhZYP1dHHBb1qOQNJdonboIsxfRXGyYKrtrrXPXLFZ6vDX_Au9gr4QUYFzjCoPawGS5anZ3qbik/s200/image003.gif
Ket. ck = contoh kerja
k1 = benih murni
k2 = benih tanaman lain
k3 = kotoran benih
Faktor kehilangan yang diperbolehkan ≤ 5%, jika terdapat kehilangan berat > 5% dari berat contoh kerja awal, maka analisis diulang dengan menggunakan contoh kerja baru. Jika faktor kehilangan ≤ 5% maka analisis kemurnian tersebut diteruskan dengan menghitung presentase ketiga komponen tersebut.
% benih murni =Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhXcfRIssbeowUCT2_UT_1g_rGrqlWR1Ajx0rXdHDcOwrFw8D3oDDV2FigNMoSTl8dXDgjr4ryqVtsv-OErzG8SG1Ex2FrsECukfXr1I3FOsjx3IeVOWGkS17KVkonqWNHv0Hq4HLxuDHs/s200/image004.gif
% benih lain =Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjg8mEyKUlqFPXMTTwyKhP4Ouy8tHQW0MdF7fcvJLU0eXnd1GbR1Mr1BzXlhXxiL4ufPlsJ2Uz7o5gNOxofEj-PFWpbf3QWmRdtQEiCBvsz9di60N8_Yjwgnli8RCwpLQM1P0yBKVwhk4Y/s200/image005.gif
% kotoran =Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEilyniNHoZqgFASjaZlg31zL7_2rRm-s5oC_mKVRPHubqU-7XqtvzrzjgUO4750dFwJC6IMgiffckCwcRfhP330XXo9hSmWbeinEijfut4thw_mdTRNojqm1JBxOH1V1v2lzR39Y0aMi-M/s200/image006.gif
Ket. k1 = benih murni
k2 = benih tanaman lain
k3 = kotoran benih
Dari hasil perhitungan tersebut kemudian dilakukan penulisan hasil analisis. Adapun ketentuan dalam penulisan hasil analisis kemurnian, yaitu:
a)      Hasil analisis ditulis dalam presentase dengan 1 desimal, jumlah presentase berat dari semua komponen harus 100%.
b)      Komponen yang beratnya 0,05% ditulis 0,0% dan diberi keterangan trace. Bagi komponen yang hasilnya nihil, hendaknya ditulis presentase beratnya dengan 0,00%, sehingga tidak terdapat kolom yang kosong.
c)      Bila komponen tidak 100%, maka tambahkan atau kurangi pada komponen yang nialinya terbesar.
d)     Nama ilmiah dari benih murni, benih tanaman lain, kotoran benih harus dicantumkan.
Contoh tabel hasil perhitungan kemurnian fisik benih

2.2            Kadar Air Benih

Benih adalah bagian tanaman yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakan tanaman. Mutu benih mencakup mutu fisik, mutu fisiologis dan mutu genetika serta memenuhi persyaratan kesehatan benih. Mutu fisik benih diukur dari kebersihan benih, bentuk, ukuran dan warna kecerahan yang homogen serta benih tidak mengalami kerusakan mekanis atau kerusakan akibat serangan hama dan penyakit. Mutu fisiologis diukur dari viabilitas benih, kadar air maupun daya simpan benih. Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang “dikandung” dan yang kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih. Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang diukur berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam % terhadap berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang tepat selama penyimpanan.
Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar air memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih ortodok pada kadar air tinggi berisiko cepat mundurnya benih selama dalam penyimpanan. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin para analisis benih di laboratorium benih.
Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang “dikandung” dan yang kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih.
Kadar air benih mempunyai peranan yang penting dalam penyimpanan benih. Kadar air benih dapat memacu proses respirasi benih sehingga akan meningkatkan perombakan cadangan makanan benih, akibatnya benih akan kehabisan cadangan makanan pada saat diperlukan/berkecambah.
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengujian kadar air benih ini adalah :
a)      Contoh kerja yang digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap udara
b)      Pengujian kadar air ini harus dilakukan sesegera mungkin, selama penetapan diusahakan agar
contoh benih sesedikit mungkin berhubungan dengan udara luar.
Ada dua metode dalam pengujian kadar air benih, yaitu :
1.      Konvensional ( Menggunakan Oven )
Skema pengujian kadar air benih dengan metode konvensional (oven). Perlakuan dalam penentuan metode tersebut menggunakan metode oven pada suhu 130 – 133oC (1, 2, 3 dan 4 jam) dan suhu 103oC (16, 18, 20, 22 dan 24 jam) (ISTA, 2006).
2.      Automatic (Menggunakan Balance Moisture Tester, Ohaus MB 45,Higromer)
Dalam metode ini hasil pengujian kadar air benih dapat langsung diketahui.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar air benih:
a) Tipe benih
b) Ukuran benih
c) penyimpanan

rumus penetapan kadar air metode oven:
KA =   X  100%
          Y – x 
Keterangan:
X : bobot wadah
Y : bobot wadah + bobot basah
Z : bobot wadah + bobot kering


     BAB III
PENUTUP

3.1            Kesimpulan

§  Dalam memperhitungkan permintaan benih untuk perencanaan program penanaman dibutuhkan data pengukuran kadar air benih, kemurnian benih dan berat benih.
§  Kadar  air adalah jumlah kandungan air yang terkandung dalam benih yang dinyatakan dalam persen.
§  Kemurnian benih merupakan seberapa bersih suatu lot benih.
§  Pengujian kemurnian bertujuan untuk mengetahui jumlah benih persatuan berat
§  Pengujian berat benih berfungsi untuk mengetahui jumlah benih per satuan berat yang ditentukan.


Daftar Pustaka


·         Justice, O.L., dan Louis, N.B. 1979. Prinsip Dan Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta : Rajawali. 446 hal.
·          Justice. 1990. The Life of The Green Plant. The Mc. Millan Inc. New York.
·          Kamil, J. 1979. Teknologi Benih 1. Padang : Penerbit Angkasa Raya.
·         Kartasapoetra, Ance G. 1986. Teknologi Benih. Jakarta : Radar Jaya Offset.
·          Satopo, L. 1985. Teknologi Benih. Jakarta : CV. Gramada.
·          Satopo, L. 2002. Teknologi Benih. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
·         Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Jakarta : Grasindo.