TEKNOLOGI BENIH
“Pengujian
Benih”
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Teknologi Benih
Disusun oleh:
Jajang Ahmad Faozan (1137060040)

JURUSAN
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2015
KATA PENAGANTAR
Bismillahirrohmanirohim...
Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT
atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelasaikan makalah ini,
makalah ini penulis berikan judul “Pengujian Benih”
Terimakasih penulis ucapkan
kepada kedua orang tua dan teman-teman yang telah memberikan dukungan moril
maupun materil sampai selesainya makalah ini.
Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi yang ingin mempelajari tentang peranan bahan organik terhadap
kesuburan tanah.
Bandung, Maret 2015
Penulis
Daftar
Isi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
latar Belakang
Benih sebagai salah satu bahan dasar dalam
budidaya tanaman memegang peranan yang sangat penting baik dalam memperbanyak
tanaman maupun dalam mendapatkan produk hasil tanamannya. Benih sebagai
komoditi perdagangan dan sebagai unsur baku yang mempunyai peranan penting
dalam produksi pertanian. Benih bermutu dengan kualitas yang tinggi selalu
diharapkan oleh petani. Oleh karena itu, benih harus selalu dijaga kualitasnya
sejak diproduksi oleh produsen benih, dipasarkan hingga sampai di tangan petani
untuk proses penanaman. Untuk menjaga kualitas benih tersebut, maka peranan
pengujian benih menjadi sangat penting dan harus dilakukan terhadap benih baik
ditingkat produsen benih, pedagang benih maupun pada tingkat petani.
Pengujian benih tersebut bertujuan untuk
mengkaji dan menetapkan nilai setiap contoh benih yang perlu diuji selaras
dengan faktor kualitas benih. Namun banyaknya spesies/varietas tanaman yang
beraneka ragam ada kecenderungan benih akan tercampur antara yang satu dengan
yang lainnya. Untuk menjamin penggunaan benih yang benar – benar murni, bersih
dan tidak tercampur dengan bahan lainnya, salah satunya adalah dengan melakukan
pengujian kemurnian benih
Faktor benih sangat menentukan keberhasilan produksi .
Suatu fenomena yang terjadi bahwa kebanyakan benih – benih saat ini memiliki
daya viabilitas serta vigor benih tidak sejalan dengan apa yang diharapkan
untuk mampunya benih padi itu tumbuh. Petani sering dirugikan dengan kondisi
benih dengan kualitas yang sangat rendah, sehingga berdampak pada biaya
budidaya yang lebih tinggi yang tidak sebanding dengan hasil produksi padi pada
akhirnya.
Menurut Sutopo (2010 : 2), benih dengan mutu tinggi
sangat diperlukan karena merupakan salah satu sarana untuk dapat menghasilkan
tanaman yang berproduksi maksimal. Mutu benih mencakup pengertian : (1) Mutu
genetik yaitu penampilan benih murni dari spesies atau varietas tertentu yang
menunjukkan identitas genetik dari tanaman induknya, mulai dari benih
penjenis, benih dasar, benih pokok sampai benih sebar. (2) Mutu fisiologis
yaitu menampilkan kemampuan daya hidup atau viabilitas benih yang mencakup daya
kecambah dan kekuatan tumbuh benih. Serta (3) Mutu fisik merupakan penampilan
benih secara prima bila dilihat secara fisik, antara lain dari ukuran dan
homogen, bernas, bersih dari campuran benih lain, biji gulma dan dari berbagai
kontaminan lainnya, serta kemasan yang menarik.
Benih yang dikatakan memiliki daya pertumbuhan baik
adalah benih dengan viabilitas mencapai 80% ke atas. Benih dengan viabilitas
tinggi tentunya memiliki daya vigor benih yang kuat, karena didukung oleh
komponen cadangan makanan dalam biji yang cukup untuk menopang pertumbuhan awal
dari biji sebelum memperoleh makanan dari dalam tanah. Untuk dapat mengetahui
hal – hal tentang viabilitas dan daya vigor benih tentunya harus dilakukan
dengan sebuah penelitian. Pengujian benih sangat penting, untuk benih – benih
yang akan dipasarkan untuk dibudidayakan oleh petani, sebab benih yang akan
diedarkan kepada konsumen (petani) harus benih yang baik (mutu genetik, fisik,
dan fisiologis) Benih merupakan benda hidup yang mempunyai sifat genetis dan
fisiologis sehingga perlu penanganan secara sungguh-sungguh agar tidak cepat
mati atau tidak tumbuh dan kemurniannya tetap terjaga, yang diperlihatkan oleh
pertumbuhannya yang seragam dan produktivitasnya sesuai dengan deskripsi.
Kondisi benih yang beredar di Indonesia sangat variatif tingkat mutunya,
seperti mutu tidak sesuai standar, kadaluarsa dll, sehingga sangat merugikan
petani.
1.2
Tujuan
Ø Untuk memahami tentang kemurnian suatu benih
Ø Untuk memahami tentang kadar air benih
1.3
Tinjauan Pustaka
Benih merupakan biji tanaman yang dipergunakan
untuk keperluan pengembangan usahatani dan mempunyai fungsi agronomis. Benih
yang bermutu adalah benih yang telah dinyatakan sebagai benih yang bekualitas
tinggi. Benih yang baik dan bermutu akan sangat menunjang dalam peningkatan
produknya baik dari segi kuantitas maupun kualitas (Kartasapoetra, 1986).
Pengujian
benih khususnya dalam pengujian kemurnian benih merupakan kegiatan – kegiatan
untuk menelaah tentang kepositifan fisik komponen – komponen benih termasuk pula
persentase berat benih murni (pure seed) yang meliputi semua varietas dari
setiap spesies yang diakui bagaimana yang dinyatakan oleh pengirim atau yang
ditemukan dalam pengujian di laboratorium (Justice, 2002).
Usaha pemurnian benih juga memudahkan pengawas
benih dalam pekerjaannya mengamati tingkat kemurnian suatu kegiatan dalam
produksi benih maupun analisis benih di laboratorium untuk menguji kemurnian
fisik benih. Bagi pengujian benih, beratnya contoh kerja untuk masing – masing
benih telah ada ketentuannya, kecuali untuk beberapa benih tertentu. Dalam
pelaksanaan pengujian kemurniaan benih dimana komponen – komponen telah
berhasil dipisahkan, kemudian yang merupakan hasil uji benih murni, benih
tanaman lain atau varietas lain, biji-bijian herba serta benda-benda mati atau
kotoran, selanjutnya masing – masing harus ditimbang dengan seksama dengan
contoh kerja dalam satuan gram (Anonim, 2007).
Daya
berkecambah suatu benih dapat diartikan sebagai mekar dan berkembangnya bagian
– bagian penting dari suatu embrio suatu benih yang menunjukkan kemampuannya
untuk tumbuh secara normal pada lingkungan yang sesuai. Dengan demikian
pengujian daya kecambah benih ialah pengujian akan sejumlah benih, berupa
persentase dari jumlah benih tersebut yang dapat atau mampu berkecambah pada
jangka waktu yang telah ditentukan (Danuarti, 2005).
BAB II
ISI
2.1
Kemurnian Benih
Pada dasarnya kegiatan pemurnian benih bertujuan
untuk membuang benih spesies lain yang berbeda dengan spesies yang diproduksi
dan bahan-bahan pengotor serta memilih benih murni dari benih – benih yang
kecil, berwarna tidak normal dan benih – benih yang tidak sehat lainnya.
Pemurnian benih tidak dapat dilakukan dengan sembarangan karena masing-masing
kelompok benih mempunyai masalah yang harus dianalisis dan dipecahkan dengan
menggunakan perangkat mesin dengan cara yang benar. Untuk benih yang sedikit
pengayakan dapat dilakukan tetapi pada benih yang banyak harus dilakukan dengan
mesin penampi. Ketika dibersihkan, benih harus dipisahkan dari kontaminan
seperti tanah, debu dan sekam serta benih yang inferior, yaitu benih yang
diluar dari ukuran sebagaimana lazimnya, keriput, retak – retak maupun
berpenyakit (Rineka, 1986).
Pengujian kemurnian benih biasanya dilakukan
secara duplo. Beda antara hasil ulangan pertama dan kedua tidak boleh lebih
tinggi atau lebih rendah dari 5%. Dalam uji kemurnian benih sampel benih yang
telah ditentukan ditimbang beratnya terlebih dahulu, kemudian dipisah –
pisahkan atas komponen yang ada yaitu benih murni, benih spesies tanaman lain,
benih gulma dan kotoran lainnya (Anonim, 2008).
Untuk memisahkan sampel benih dari kotoran fisik
yang lebih ringan dari benih dapat menggunakan seed blower. Setiap komponen
yang telah berhasil dipisahkan selanjutnya masing – masing ditimbang, kemudian
ditotal. Untuk menghindari adanya kekeliruan dalam menghitung kemurnian benih,
maka total berat semua komponen dibandingkan dengan berat awal sampel benih
yang diuji. Berat total dari semua komponen seharusnya sama dengan berat awal
sampel benih yang diuji, tetapi bisa juga kurang/lebih. Kegiatan terakhir dari
pelaksanaan uji kemurnian benih adalah menghitung persentase dari setiap
komponen benih yang diuji. Seperti benih spesies lain, gulma dan kotoran lain
memiliki nilai rendah (Coppelan, 1985).
Dalam
perhitungan kemurnian benih dipengaruhi oleh komponen hasil pengujian benih.
Apabila berat sampel benih kurang dari 25 gram, maka perhitungan persentase
berat masing – masing komponen dengan membandingkan terhadap keseluruhan berat
semua komponen (bukan terhadap berat sampel benih yang diuji), yang kemudian dikalikan
dengan 100%. Jika tingkat kemurnian benih itu rendah, maka juga akan
berpengaruh dalam keseragaman tumbuh di lapangan yang juga akan rendah. Hal
tersebut dapat terjadi karena dimungkinkan benih yang digunakan tercampur oleh
spesies tanaman lain, gulma atau kotoran lainnya sehingga akan berpengaruh pada
waktu panen yang tidak serentak dan produk yang dihasilkan tidak akan
seragam/tidak sesuai dengan yang diharapkan (Kamil, 1979).
Pengujian benih merupakan metode untuk menentukan
nilai pertanaman di lapangan. Oleh karena itu, komponen-komponen mutu benih
yang menunjukan korelasi dengan nilai pertanaman benih di lapang harus
dievaluasi dalam pengujian. Dalam pengujian benih mengacu dari ISTA, dan
beberapa penyesuaian telah diambil untuk mempertimbangkan kebutuhan khusus
(ukuran, struktur, pola perkecambahan) jenis-jenis yang dibahas di dalam
petunjuk ini. Beberapa penyesuaian juga telah dibuat untuk menyederhanakan
prosedur pengujian benih. Pengujian benih mencakup pengujian mutu fisik
fisiologi benih. Petunjuk ini menjelaskan bagaimana mempersiapkan contoh yang
mewakili lot benih untuk keperluan pengujian, dan bagaimana melakukan pengujian
benih, salah satunya yaitu analisis kemurnian.
Pengujian
kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen
benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung
presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian
adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari
contoh benih yang mewakili lot benih. Untuk analisis kemurnian benih, maka
contoh uji dipisahkan menjadi 3 komponen sebagai berikut :
a) Benih
murni, adalah segala macam biji-bijian yang merupakan jenis/ spesies yang
sedang diuji. Yang termasuk benihmurni diantaranya adalah :
Ø Benih masak
utuh
Ø Benih yang
berukuran kecil, mengkerut, tidak masak
Ø Benih yang
telah berkecambah sebelum diuji
Ø Pecahan/
potongan benih yang berukuran lebih dari separuh benih yang sesungguhnya,
asalkan dapat dipastikan bahwa pecahan benih tersebut termasuk kedalam spesies
yang dimaksud
Ø Biji yang
terserang penyakit dan bentuknya masih dapat dikenali
b) Benih
tanaman lain, adalah jenis/ spesies lain yang ikut tercampur dalam contoh dan
tidak dimaksudkan untuk diuji.
c) Kotoran
benih, adalah benih dan bagian dari benih yang ikut terbawa dalam contoh. Yang
termasuk kedalam kotoran benih adalah:
Ø Benih dan
bagian benih
@ Benih tanpa
kulit benih
@ Benih yang
terlihat bukan benih sejati
@ Bijihampa
tanpa lembaga pecahan benih ≤ 0,5 ukuran normal
@ Cangkang
benih
@ Kulit benih
Ø Bahan lain
@ Sekam,
pasir, partikel tanah, jerami, ranting, daun, tangkai, dll.
Dalam pengambilan
contoh kerja untuk kemurnian benih ada dua metode yang dapat dilakukan, yaitu:
a)
Secara duplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan
dua kali.
b)
Secara simplo, adalah pengambilan contoh kerja yang dilakukan
satu kali.
Skema pengujian
analisis kemurnian benih
Dari skema diatas
dapat diketuhi bahwa pengambilan contoh benih dapat dilakukan secara simplo yaitu
dengan melakukan pengambilan contoh kerja hanya satu kali, tetapi
jika secara duplo maka pengambilan contoh kerja dilakukan 2 kali
setengah berat contoh kerja.
Setelah dilakukan
pengabilan contoh kerja maka dilakukan penimbangan untuk mengetahui berat awal
benih sebelum dilakukan pengujian kemurnian. Tahap selanjutnya adalah analisis
kemurnian, setiap benih diidentifikasi satu persatu secara visual bedasarkan
penampakan morfologi. Semua benih tanaman lain dan kotoran benih dipisahkan. Setelah
dilakukan analisis kemudian dilakukan penimbangan pada setiap komponen
tersebut. Hasil dari penimbangan dilakukan perhitungan faktor kehilangan.
Ket. ck = contoh
kerja
k1 = benih murni
k2 = benih tanaman
lain
k3 = kotoran benih
Faktor kehilangan
yang diperbolehkan ≤ 5%, jika terdapat kehilangan berat > 5% dari berat
contoh kerja awal, maka analisis diulang dengan menggunakan contoh kerja
baru. Jika faktor kehilangan ≤ 5% maka analisis kemurnian tersebut
diteruskan dengan menghitung presentase ketiga komponen tersebut.
Ket. k1 = benih
murni
k2 = benih tanaman
lain
k3 = kotoran benih
Dari hasil
perhitungan tersebut kemudian dilakukan penulisan hasil analisis. Adapun
ketentuan dalam penulisan hasil analisis kemurnian, yaitu:
a)
Hasil analisis ditulis dalam presentase dengan 1 desimal,
jumlah presentase berat dari semua komponen harus 100%.
b)
Komponen yang beratnya 0,05% ditulis 0,0% dan diberi
keterangan trace. Bagi komponen yang hasilnya nihil, hendaknya ditulis
presentase beratnya dengan 0,00%, sehingga tidak terdapat kolom yang kosong.
c)
Bila komponen tidak 100%, maka tambahkan atau kurangi pada
komponen yang nialinya terbesar.
d)
Nama ilmiah dari benih murni, benih tanaman lain, kotoran
benih harus dicantumkan.

2.2
Kadar Air Benih
Benih adalah bagian tanaman yang digunakan untuk memperbanyak dan atau
mengembangbiakan tanaman. Mutu benih mencakup mutu fisik, mutu fisiologis dan
mutu genetika serta memenuhi persyaratan kesehatan benih. Mutu fisik benih
diukur dari kebersihan benih, bentuk, ukuran dan warna kecerahan yang homogen
serta benih tidak mengalami kerusakan mekanis atau kerusakan akibat serangan
hama dan penyakit. Mutu fisiologis diukur dari viabilitas benih, kadar air
maupun daya simpan benih. Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang
“dikandung” dan yang kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang
ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih.
Penetapan Kadar Air adalah banyaknya kandungan air dalam benih yang diukur
berdasarkan hilangnya kandungan air tersebut & dinyatakan dalam % terhadap
berat asal contoh benih. Tujuan penetapan kadar air diantaranya untuk untuk
mengetahui kadar air benih sebelum disimpan dan untuk menetapkan kadar air yang
tepat selama penyimpanan.
Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik
untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan benih. Telah diketahui bahwa kadar
air memiliki dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Menyimpan benih
ortodok pada kadar air tinggi berisiko cepat mundurnya benih selama dalam
penyimpanan. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang dinilai oleh
BPSB dalam sertifikasi benih sehingga uji ini merupakan satu pengujian rutin
para analisis benih di laboratorium benih.
Yang dimaksud kadar air benih, ialah berat air yang
“dikandung” dan yang kemudian hilang karena pemanasan sesuai dengan aturan yang
ditetapkan, yang dinyatakan dalam persentase terhadap berat awal contoh benih.
Kadar air benih mempunyai peranan yang penting dalam
penyimpanan benih. Kadar air benih dapat memacu proses respirasi benih sehingga
akan meningkatkan perombakan cadangan makanan benih, akibatnya benih akan
kehabisan cadangan makanan pada saat diperlukan/berkecambah.
Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pengujian kadar
air benih ini adalah :
a)
Contoh kerja yang
digunakan merupakan benih yang diambil dan ditempatkan dalam wadah yang kedap
udara
b)
Pengujian kadar air ini
harus dilakukan sesegera mungkin, selama penetapan diusahakan agar
contoh benih sesedikit mungkin berhubungan dengan
udara luar.
Ada dua metode dalam pengujian kadar air benih, yaitu
:
1. Konvensional ( Menggunakan Oven )
Skema pengujian kadar air benih dengan metode
konvensional (oven). Perlakuan dalam penentuan metode tersebut menggunakan
metode oven pada suhu 130 – 133oC (1, 2, 3 dan 4 jam) dan suhu 103oC
(16, 18, 20, 22 dan 24 jam) (ISTA, 2006).
2. Automatic (Menggunakan Balance Moisture Tester, Ohaus MB 45,Higromer)
Dalam metode ini hasil pengujian kadar air benih dapat
langsung diketahui.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar air benih:
a) Tipe benih
b) Ukuran benih
c) penyimpanan
rumus penetapan kadar air metode oven:
KA =
X 100%
Y – x
Keterangan:
X : bobot wadah
Y : bobot wadah + bobot basah
Z : bobot wadah + bobot kering
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
§ Dalam
memperhitungkan permintaan benih untuk perencanaan program penanaman dibutuhkan data
pengukuran kadar air benih, kemurnian benih dan berat benih.
§ Kadar air
adalah jumlah kandungan air yang terkandung dalam benih yang dinyatakan dalam
persen.
§ Kemurnian
benih merupakan seberapa bersih suatu lot benih.
§ Pengujian
kemurnian bertujuan untuk mengetahui jumlah benih persatuan berat
§ Pengujian
berat benih berfungsi untuk mengetahui jumlah benih per satuan berat yang
ditentukan.
Daftar Pustaka
·
Justice, O.L., dan
Louis, N.B. 1979. Prinsip Dan Praktek Penyimpanan Benih. Jakarta : Rajawali.
446 hal.
·
Justice. 1990. The Life of The Green Plant.
The Mc. Millan Inc. New York.
·
Kamil, J. 1979. Teknologi Benih 1. Padang :
Penerbit Angkasa Raya.
·
Kartasapoetra, Ance G.
1986. Teknologi Benih. Jakarta : Radar Jaya Offset.
·
Satopo, L. 1985. Teknologi Benih. Jakarta :
CV. Gramada.
·
Satopo, L. 2002. Teknologi Benih. Jakarta :
Raja Grafindo Persada.
·
Kuswanto, H. 1997.
Analisis Benih. Jakarta : Grasindo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar